PANDANGAN INJIL TERHADAP UPACARA ADAT BATAK

PANDANGAN INJILTERHADAP

UPACARA ADAT BATAK

adat-batak

Salah satu perbedaan terbesar antara masyarakat di belahan dunia Timur dengan di belahan Dunia Barat adalah dalam hal adat istiadat. Kehidupan masyarakat Timur dipenuhi dengan berbagai jenis upacara adat, mulai dari masa dalam kandungan, kelahiran, penyapihan, perkawinan, penyakit, malapetaka, kematian dan lain -lain. Upacara-upacara di sepanjang lingkaran hidup manusia itu di dalam antropologi dikenal dengan istilah rites de passages atau life cycle rites.

Peralihan dari setiap tingkat hidup ditandai dengan pelaksanaan suatu upacara adat khusus. Upacara ini didasarkan pada pemikiran bahwa masa peralihan tingkat kehidupan itu mengandung bahaya gaib. Upacara adat dilakukan agar seseorang atau sekelompok orang terhindar dari bahaya atau celaka yang akan menimpanya. Malahan sebaliknya, mereka memperoleh berkat dan keselamatan. Inilah salah satu prinsip universal yang terdapat di balik pelaksanaan setiap upacara adat itu.

Beberapa life cycle rites yang dijumpai pada masyarakat Batak Toba di antaranya: mangganje (kehamilan), mangharoan (kelahiran), martutu aek dan mampe goar (permandian dan pemberian nama), marhajabuan (menikah), mangompoi jabu (memasuki rumah), manulangi (menyulangi/menyuapi), hamatean (kematian), mangongkal holi (menggali tulang belulang), dll. Pada masyarakat Batak lainnya (Karo, Simalungun, Mandailing, Angkola, dan Pakpak Dairi), upacara tersebut memiliki sebutan-sebutan yang berbeda.

Persoalan besar dan sangat penting yang dihadapi oleh seseorang yang memutuskan untuk sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus adalah: apakah dia masih boleh terlibat dalam upacara adat Batak yang berasal dari masa ketika leluhurnya hidup dalam kegelapan rohani (haholomon) dan penyembahan berhala (hasipelebeguon). Permasalahan tersebut muncul ketika Injil Tuhan Yesus diberitakan pertama kalinya oleh para Missionaris di Tanah Batak, dan terus berlanjut hingga masa kini. Persoalan ini belum tuntas diselesaikan, baik sewaktu Pdt. I.L. Nommensen masih hidup, pada masa gereja dipimpin para Missionaris penerusnya, maupun pada masa pimpinan gereja berada di tangan orang Batak sendiri. Nommensen mencoba membagi upacara adat atas tiga kategori, yaitu:
i. Adat yang netral
ii. Adat yang bertentangan dengan Injil
iii. Adat yang sesuai dengan Injil

Sebelum masalah itu tuntas, beliau mengambil kebijaksanaan untuk melarang keras dilaksanakannya upacara adat Batak oleh orang Kristen Batak, termasuk penggunaan musik dan tarian (gondang dan tortor) Batak. Akibatnya, jemaat yang baru dilayani pada masa itu banyak yang dikucilkan dari masyarakat, sehingga Nommensen terpaksa menampung mereka dengan membangun perkampungan baru, yang disebut Huta Dame.

Bahkan Raja Pontas Lumban Tobing pernah dikenai disiplin gereja karena menghadiri sebuah upacara kematian. Raja Pontas Lumban Tobing adalah orang yang memberikan tanahnya di Pearaja, Tarutung untuk dipakai bagi kegiatan pelayanan gereja. Dia termasuk seorang raja
Batak yang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus di awal pelayanan Nommensen. Raja ini mempunyai andil yang cukup besar dalam penyebaran Injil, khususnya dalam menjangkau raja-raja di wilayah Silindung.

Namun sampai akhir hidupnya, Nommensen gagal menyelesaikan masalah tersebut. Salah satu sumber kegagalan Nommensen terletak pada kategori yang dibuatnya sendiri. Nommensen sulit menentukan upacara adat Batak mana yang tidak bertentangan dengan Injil dan upacara adat mana yang netral.

Pada masa-masa akhir pelayanan para Missionaris di Tanah Batak, ditengah-tengah umat Kristen Batak muncul suatu desakan untuk mempertahankan berbagai upacara adat Batak dan mengganti kepemimpinan gereja dengan orang Batak sendiri. Usaha tersebut baru berhasil dengan diangkatnya Pdt. K. Sirait menjadi Ephorus Batak pertama (1942).

Tekanan supaya diizinkannya kembali upacara adat muncul sebagai dampak negatif dari strategi penginjilan di tanah Batak dengan pendekatan struktural masyarakat Batak. Penginjilan dilakukan dengan memusatkan perhatian kepada raja-raja yang memimpin di wilayah masing-masing marga. Pertobatan seorang raja biasanya segera diikuti dengan pembaptisan massal dari penduduk di wilayah itu, yang umumnya memiliki ikatan kekerabatan dengan sang raja. Dengan cara ini, para Missionaris berhasil dengan cepat mengkristenkan wilayah Tapanuli bagian Utara.

Pihak gereja yang mengutus Nommensen menolak adanya pembaptisan massal yang tidak didasarkan pada pertobatan pribadi. Namun, Nommensen terpaksa melakukannya mengingat cepatnya gerakan islamisasi di Tapanuli Selatan, yang digerakkan oleh pasukan Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Rao. Nommensen berharap mereka yang telah dikristenkan dapat dibimbing dalam ajaran Tuhan di kemudian hari untuk memasuki pertobatan pribadi, mengikut Yesus karena kemauan sendiri dan karena sudah mengerti ajaran Injil.

Dalam kenyataannya, pembaptisan massal kerabat seorang raja yang menjadi pengikut Yesus banyak dilakukan karena solidaritas kekerabatan, bukan karena pertobatan murni dari pemahaman akan Injil Yesus Kristus. Banyak dari mereka belum mengenal kekayaan dan kemuliaan Injil Yesus Kristus sehingga tidak pernah mengalami pembaharuan hidup oleh kuasa ,Roh Kudus dan mengerti keunikan Injil Kristus.

Pembaptisan massal tersebut memberikan kesibukan yang luar biasa bagi para Missionaris dalam melayani Jemaat baru tersebut. Karena keterbatasan jumlah Missionaris, banyak anggota Jemaat tersebut yang tidak sempat dibina dalam prinsip-prinsip sejati pemuridan Yesus Kristus. Secara organisasi mereka anggota gereja, tetapi dalam pemikiran dan cara hidup mereka masih sebagai orang Batak Haholomon (kegelapan) yang terikat dengan cara pikir dan cara hidup hasipelebeguon.

Persoalan ini juga disebabkan oleh tidak adanya pedoman atau aturan gereja yang jelas dari pimpinan di Jerman, yang mengirim para Missionaris. Mereka sendiri belum dapat memutuskan sikap yang jelas terhadap upacara adat Batak karena upacara adat Batak merupakan hal baru bagi mereka. Karenanya, terdapat perbedaan sikap yang belum pernah dituntaskan di antara para Missionaris dalam menyikapi jenis-jenis upacara adat Batak yang harus ditinggalkan. Namun pada prinsipnya, mereka sangat menekankan bahwa segala bentuk hasipelebeguon harus ditinggalkan, karena bertentangan dengan Firman TUHAN.

Pdt. I.L.Nommensen yang pelayanan utamanya berada di Silindung memiliki sikap yang tegas melarang keberadaan berbagai unsur upacara Hasipelebeguon, termasuk tortor dan gondang. Tetapi Gustav Pilgram yang melayani di Balige dan sekitarnya justru mengizinkan tortor dan gondang dilaksanakan dengan beberapa persyaratan seperti: unsur hasipelebeguon harus dihilangkan, pemimpinnya harus missionaris, dilaksanakan pada siang hari, peralatannya milik orang Kristen, dan tidak boleh diikuti oleh orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus.

Perbedaan sikap Pilgram itu dianggap oleh banyak orang Batak sebagai lampu hijau bagi penerimaan adat Batak di dalam kekristenan. Mereka tidak memahami alasan Pilgram mengizinkan dan memahami sikap dasar Pilgram bahwa segala bentuk hasipelebeguon tetap harus disingkirkan dari kehidupan kekristenan. Alasannya untuk mengizinkan tortor dan gondang dapat kita baca dari “referat 1885” (dikutip dari buku “Parsorion ni Gustav Pilgram”, karangan DR. Andar Lumban Tobing): “Disipareonta tung sogo do gondang i, jala tortor i pe ndang pasonanghon pamerenganta. Alai na mansai manarik gondang dohot tortor i di halak Batak, boi do dibuktihon godang ni loloan na bolon na mandohotsa. Haru angka Kristen dohot angka parguru pe, tung maol do padaohon nasida sian i. Aut so manarik situtu na ginoran ondeng tu halak Batak i, ndang apala penting tema i, ia so i, molo halak Kristen naung marpangalaman sambing do siadopanta dison, na so mamorluhon gondang dohot tortor, ndang penting tema ginoran nangkin, ai manang ise marnampunahon Anak ni Amata, nunga di ibana hangoluan na saleleng-lelengna, nunga martua nuaeng nang ro di saleleng-lelengna, jala ndang mamorluhon gondang dohot tortor be ibana. Alai dison angka Kristen na baru tardidi dope dohot angka na so marpangalaman, na ingkon sitogu-toguon dope songon dakdanak. Didok rohangku, ndang adong hakta mambuat sude sian nasida naung adong hian di nasida, saleleng so adong pangantusion di nasida mangonai na dumenggan i na naeng boanonta tu nasida.” Pilgram tidak setuju, namun terpaksa mengizinkan keberadaan gondang dan tortor. Mereka dinilai belum memiliki pengertian akan Kristus, belum berpengalaman, masih seperti seorang anak kecil. Dia berkeyakinan, bila orang Batak itu sudah memiliki pengenalan akan Kristus (dewasa rohani), dia akan mengenal arti hidup yang kekal di dalam Kristus itu, dan pada akhirnya mereka tidak memerlukan lagi tortor dan gondang itu dan meninggalkannya. Jadi tidak perlu dipaksa. Namun, setelah ditunggu selama seratus lima belas tahun kemudian, yakni awal tahun 2000 ini, masih banyak orang Kristen Batak yang masih hidup didalam tingkat rohani seperti yang dikatakan oleh Pilgram itu. Alangkah pedihnya hati Pilgram kalau melihat kenyataan seperti yang ada saat ini.

Pendudukan Jepang memaksa para Missionaris meninggalkan Indonesia tanpa berhasil menuntaskan masalah upacara adat. Kepergian mereka meninggalkan kekosongan teologia (theologia in loco) dan kebingungan rohani di tengah-tengah Jemaat Batak. Keterikatan dengan pola hidup lamanya telah mendorong Jemaat untuk mendesak pimpinan gereja mengizinkan kembali pelaksanaan berbagai upacara adat. Desakan ini didukung oleh argumentasi teologis yang dikemukakan para pemimpin rohani yang belum mengalami pembaharuan total dalam pola pemikirannya.

Argumentasi teologis tersebut merupakan suatu pemahaman Injil yang mengkompromikan kebenaran ajaran Injil dengan ajaran agama Batak, teologia yang bersifat sinkretis (pengajaran atau cara hidup yang berasal dari campuran dua atau lebih ajaran), yang dapat diterima oleh pemikiran jemaat kebanyakan. Dalam teologi ini diakui bahwa Yesuslah satusatunya Jalan, Kebenaran, dan Hidup, tetapi dalam hidup sehari -hari perlu dipertahankan upacara adat (agama) Batak, yang diketahui dengan jelas berasal dari Hasipelebeguon. Teologi Sinkretis inilah yang diajarkan kepada Jemaat Kristen Batak sampai hari ini. Teologi Sinkretis ini telah menjadi arus utama didalam pemahaman iman Jemaat Kristen Batak pada masa sekarang.

Akibatnya, pada generasi berikutnya merebak kembali pelaksanaan berbagai upacara adat yang sebelumnya telah dilarang oleh para Missionaris untuk dilakukan. Sebagai contoh, upacara kematian (hamatean), upacara memindahkan tulang belulang (mangongkal holi),
pelaksanaan tortor dan gondang Batak di gereja dan berbagai upacara lainnya.

Bukan itu saja, upacara penyembahan nenek moyang yang merupakan inti agama Batak pada masa kegelapan, kembali merebak dilakukan oleh masyarakat Batak Kristen sekarang. Kebangkitan penyembahan ini mengambil bentuk baru yang ditandai dengan menjamurnya pembangunan tugu-tugu marga Batak. Anda dapat melihat banyaknya tugu yang dibangun di sepanjang jalan lintas antara kota Parapat dengan kota Tarutung. Tugu tersebut dibangun oleh keturunan marga yang berasal dari satu garis leluhur (ompu parsadaan). Pembangunan ini  telah menghabiskan dana sangat besar, bahkan mendatangkan kemerosotan rohani yang dalam. Kalau dahulu Nommensen mau dikorbankan oleh orang Batak kepada roh sembahan leluhur marganya diatas bukit Siatas Barita, maka sekarang yang terjadi sebaliknya. Banyak pendeta dan penatua pemimpin kebaktian pada acara pemujaan roh nenek moyang di tugutugu marga.

Ironisnya lagi, pelaksanaan upacara dari masa kegelapan itu dibungkus dengan kebaktian gerejawi, yang dilaksanakan di lokasi pendirian tugu marga dimana tulang belulang leluhur tersebut dikuburkan kembali. Proses pembangunan tugu juga banyak melibatkan kuasa-kuasa setan melalui datu (spirit medium), misalnya untuk menentukan lokasi penggalian tulang belulang leluhur marga.

Tanpa disadari umat Tuhan di tanah Batak telah berubah menjadi umat yang mendua hati (shizoprenis: terpecah), yang pada satu sisi mencoba untuk mengikuti ajaran Yesus Kristus, pada sisi yang lain giat melakukan ajaran agama nenek moyangnya. Dalam hidup keseharian
terjadi pencampuran kedua ajaran agama (sinkretis), yaitu agama leluhur dan Injil Yesus Kristus. Akibatnya kekristenan orang Batak menjadi kompromis, permisif dan kebenaran Injil yang mutlak menjadi relatif. Satu kaki berpijak pada Injil (?), dan kaki lainnya berpijak pada Adat (agama Hasipelebeguon). Satu sisi dalam terang, sisi lain dalam kegelapan.

Sinkretisme orang Kristen Batak dapat kita lihat di dalam pelaksanaan perkawinan. Perkawinan orang Kristen Batak dilakukan dengan dua jenis upacara: upacara kegerejaan yang biasanya dilanjutkan dengan upacara agama Batak. Pelaksanaan kedua upacara tersebut merupakan
suatu keharusan, sekalipun tidak ada hukum formal maupun Firman Tuhan yang
memerintahkannya. Pernikahan secara gerejani, tanpa diikuti dengan pelaksanaan upacara adat Batak, sering menimbulkan konflik besar di dalam keluarga orang yang hendak menikah. Di gedung gereja, orang Batak melakukan upacara kekristenan, sedangkan di luar gedung gereja mereka melakukan upacara agama leluhur. Perbedaannya hanya terletak pada orang yang memimpin upacara. Dulu dipimpin oleh Datu, sekarang digantikan oleh Pendeta. Peranan datu digantikan oleh pendeta, tetapi rangkaian upacara adat (agama leluhur) selanjutnya tetap sama. Berkat (pasu-pasu) dari Tuhan Yesus dianggap belum cukup, dan perlu disempurnakan dengan berkat dari hula-hula dan lainnya. Kesempurnaan dan kemutlakan karya Yesus Kristus telah disingkirkan demi mempertahankan upacara kegelapan warisan leluhur itu.

Sinkretisme ini bukan hanya terjadi di kalangan gereja -gereja tradisional Batak, tetapi juga telah merembes kepada orang-orang Kristen Injili yang mengaku Alkitabiah, menjunjung tinggi keunikan Injil dan lebih giat memberitakannya. Dari mimbar kaum Injili yang ada di Sumatera Utara sering disuarakan dukungan atas pelaksanaan upacara adat Batak. Merekapun banyak yang terlibat di dalam pelaksanaan aktivitas tersebut.

Orang Batak telah melupakan prinsip rohani bahwa terang tidak dapat bersatu dengan gelap, dan kebenaran tidak dapat dipersatukan dengan ketidakbenaran. Dalam bahasa Tuhan Yesus: “Tidak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikia n, ia akan
membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Tuhan dan kepada Mammon” (Matius 6:24).

Seiring dengan merebaknya kembali aktivitas upacara adat di tengah-tengah bangsa Batak, kemerosotan rohani yang besar terjadi, baik pada kaum awam, maupun pada pemimpin gereja. Kemerosotan itu nampak pada banyaknya perpecahan dalam gereja Batak, contohnya kasus perpecahan gereja HKI, GKPI, dan HKBP. Perpecahan itu juga telah terjadi pada hampir setiap gereja suku di Sumatera Utara. Perpecahan gereja Batak banyak bersumber pada akar budaya Batak itu sendiri, dan konflik kepentingan di antara pemimpin umat; bukan karena masalah teologia. Perpecahan yang besar berpuncak pada kasus gereja HKBP yang sangat menghebohkan, yang telah banyak mengorbankan materi, darah bahkan nyawa manusia. Semuanya sangat mempermalukan nama Tuhan Yesus.

Kemuliaan dan kehormatan yang seharusnya diberikan kepada Tuhan Yesus, telah diberikan kepada iblis dan Pemimpin Jemaat. Wajar jikalau damai Tuhan Yesus tidak ada disana. Seruan para malaikat di Betlehem mengajarkan bahwa damai Tuhan hanya akan diberikan kepada orang yang berkenan kepada-Nya, yaitu orang yang memberikan kemuliaan kepada Tuhan Yesus. “Kemuliaan bagi Tuhan di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi diantara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Lukas 2:14). Gereja HKBP (tempat penulis saat ini bergereja) sering diserukan sebagai “HKBP Na bolon I” (HKBP yang besar), padahal gelar Na Bolon I tersebut hanya layak diberikan kepada Yesus Kristus.

Gereja yang seharusnya Duta Pembawa Damai di dunia, telah berubah menjadi sekumpulan orang-orang yang saling berperang. Gereja telah menjadi arena peperangan baru bagi orang Batak di zaman modern ini. Peperangan bukan hanya terjadi di kalangan kaum awam, namun juga telah merebak sampai kepada pucuk pimpinan gereja itu sendiri. Sangat tepat dikatakan bahwa orang Batak telah kembali kepada masa hidup nenek moyangnya, yang ditandai dengan tingkat konflik yang tinggi, dimana sering terjadi peperangan (marporang) antar kampung (huta). Konflik di gereja HKBP beberapa tahun belakangan ini merupakan contoh terbesar dari peperangan antara sesama orang Batak masa kini.

Pemberitaan keselamatan manusia di dalam Tuhan Yesus, yang seharusnya merupakan kesibukan utama bagi gereja Tuhan, telah berganti dengan banyaknya waktu yang terbuang untuk mengikuti berbagai upacara adat. Kelalaian dalam melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus tidak pernah dinyatakan sebagai dosa yang serius oleh pimpinan gereja. Tetapi, penolakan aktivitas upacara adat, atau ketidaktepatan pelaksanaan upacara adat segera akan mengundang komentar yang tajam dan ramai. Perdebatan dan pertengkaran karena masalah adat merupakan sesuatu yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Kemerosotan rohani dapat kita lihat juga dalam kehidupan sehari-hari. Anda jangan heran, jikalau pada masa sekarang, banyak orang Batak Kristen yang sangat takut untuk tidak melakukan upacara adat. Sementara untuk tidak mentaati Firman Tuhan itu merupakan hal yang dianggap sepele saja oleh mereka. Bahkan, sering dijumpai orang yang lebih senang dikatakan sebagai orang yang tidak “ber-Tuhan” (ndang martuhan) daripada dikatakan sebagai orang yang “tidak beradat” (ndang maradat). Tanpa disadari, adat Batak telah kembali menjadi berhala atau ilah yang dijunjung tinggi di hati orang Kristen Batak.

Kemerosotan rohani juga dapat kita lihat pada banyaknya orang-orang Kristen Batak yang terlibat berbagai dosa seperti perdukunan, spiritisme (berhubungan dengan arwah orang mati), memberikan persembahan di kuburan, perzinahan, kebebasan seksual, rentenir, perjudian, kemabukan, korupsi, suap-menyuap, pembunuhan, kekerasan (premanisme), perkelahian dan berbagai dosa lainnya.

Dalam dunia pekerjaan, berbagai jabatan yang penting dan strategis di birokrasi dan pemerintahan, yang pada awal kemerdekaan banyak dipegang oleh orang Kristen Batak, pada saat ini telah beralih kepada orang-orang lain. Bukan itu saja, peluang untuk mendapatkan pekerjaan khususnya dalam birokrasi dan pemerintahan menjadi sangat sulit diperoleh oleh orang Batak Kristen, kecuali dengan menyogok (ber-KKN).

Kita semua tahu bahwa banyak orang Kristen Batak yang telah menjual imannya (iman kepada Yesus Kristus), demi memperoleh suatu pekerjaan, pernikahan, pangkat dan jabatan. Barter harta rohani yang tak ternilai harganya, dengan barang-barang murahan dari dunia ini telah banyak dilakukan oleh kaum Esau dari Bona Pasogit, Tano Batak. Firman Tuhan dibawah ini patut menjadi bahan pemikiran kita:

“Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan TUHAN, Bapamu, yang kusampaikan pada hari ini engkau lakukan dengan setia” (Ulangan 28:13).

Karena itu, persoalan adat kini harus diselesaikan, karena kita mengetahui bahwa upacara tersebut telah menimbulkan masalah rohani yang besar. Kita tidak mau membiarkan iblis memperoleh kembali peluang untuk mencengkramkan kukunya pada generasi Batak saat ini. Semuanya itu sangat mendukakan hati Tuhan dan mendatangkan murka atas bangsa Batak. Karena itu sudah merupakan kewajiban dari generasi Kristen Batak pada masa kini untuk mengevaluasi kembali kehidupan kerohaniannya di hadapan Tuhan Yesus. Evaluasi tersebut mencakup cara pandang, sikap dan tindakan kita terhadap eksistensi upacara adat.

Evaluasi itu hanya mungkin dilakukan apabila kita mau datang kepada Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh, dan meminta dengan tekun agar Dia menerangi hati kita, dan ;menyingkapkan rahasia Firman-Nya. Karena hanya Tuhan Yesus, melalui Roh-Nya, yang memiliki otoritas mutlak dalam menafsirkan seluruh kebenaran Firman Tuhan. Sehingga Dia berkenan mengoreksi segala pemikiran, konsep, nilai, prinsip, cara dan tindakan kita selama ini. Seruan untuk kembali kepada Tuhan Yesus sangat mendesak untuk diberitakan pada saat ini. “Wahai bangsa Batak, kembalilah kepada Tuhan Yesus”, “Back to Jesus!”
Semuanya ini hanya mungkin, bila kita mau merendahkan hati untuk dikoreksi dan diajar oleh Tuhan Yesus, sama seperti seorang anak kecil, yang memiliki kepolosan, keterbukaan dan kejujuran untuk diajar.

Bukan untuk sekedar menambah pengetahuan teologia belaka, tetapi
benar-benar untuk mentaati-Nya. Karena Roh Kudus hanya akan mengerjakan hal tersebut bila kita dinilai-Nya telah memiliki ketaatan hati, sekalipun kebenaran itu sangat pahit untuk memulainya (Kisah Para Rasul 5:32). Karena itu, doa sang Pemazmur sangat relevan untuk dipanjatkan secara sungguh-sungguh oleh orang-orang Kristen Batak:

“Selidikilah aku, ya Tuhan, dan kenalilah hatiku, ujilah aku dan kenalilah pikiranku; lihatlah apakah jalanku serong dan tuntunlah aku di jalan yang kekal.” (Mazmur 139:23,24)

Renungan ini mencoba melihat kembali tentang sikap dan pandangan Tuhan terhadap masalah upacara adat, khususnya yang hidup dalam masyarakat Batak, dengan mengambil contoh kasus utamanya dari sub suku bangsa Batak Toba. Penulis hanya akan membatasi pembahasan pada beberapa prinsip-prinsip utama yang mendasari pelaksanaan upacara adat, dan tidak akan menguraikan detail dari pelaksanaan upacara tersebut. Karena melalui renungan ini, tidak mungkin menguraikan dan mengkaji segala aspek dari berbagai macam upacara adat yang ada di tengah-tengah masyarakat Batak.

Penulis sadar, bahwa apa yang dipaparkan dalam tulisan ini sangat bertentangan dengan pemahaman teologi yang umumnya diyakini oleh masyarakat Batak sekarang. Apa yang dituliskan disini merupakan suatu pemahaman alternatif, alkitabiah, dan Injili, yang Tuhan Yesus bukakan secara bertahap kepada penulis. Penguraian ini akan menyentuh hal-hal yang sangat sensitif di hati orang Batak, yang mungkin akan dapat membangkitkan rasa marah dan benci bagi sebagian orang. Tetapi penulis berketetapan hati di hadapan Tuhan Yesus untuk memberitakannya. Kalau Anda mau mencari kebenaran Tuhan, dipersilahkan untuk membacanya terus.

Pertentangan pasti muncul, karena sudut pandang dalam melihat adat itu memang berbeda. Pandangan Kristus tidak pernah sama dengan pandangan manusia yang duniawi. Pandangan Kristus jauh lebih tinggi dari pandangan duniawi. Penafsiran seseorang mengenai adat istiadat muncul dari suatu titik pijakan, sikap hati dan tujuan yang hendak dicapainya. Persoalannya, apakah kita memiliki dasar pijakan yang sama dengan Tuhan Yesus? Kuasa Roh Kudus hanya akan menyertai dan mengurapi orang-orang yang memberitakan Firman sesuai dengan
maksud-Nya. Penulis sangat terkejut ketika membaca sebuah buku, yang berjudul “Christ and Culture” (Kristus dan Kebudayaan), yang ditulis oleh seorang teolog terkenal, yang bernama DR. Richard Niehbur. Dalam buku tersebut dijelaskan alasan menyebabkan orang-orang Yahudi dan para pemimpin bangsa tersebut menyalibkan Tuhan Yesus. Niehbur berpendapat bahwa orang-orang Yahudi membunuh Tuhan Yesus karena segala pengajaran dan tindakan Tuhan Yesus merusak adat istiadat dan agama Yahudi, yang sangat mereka banggakan. Akhirnya, mereka harus memilih, antara membinasakan Tuhan Yesus atau membiarkan agama dan adat istiadat Yahudi hancur. Demi mempertahankan keutuhan adat dan agama tersebut, mereka memilih untuk membinasakan Tuhan Yesus, orang yang dianggap sebagai sumber kerusakan itu.

Peristiwa tersebut menjadi pelajaran, sekaligus tantangan bagi kita sebagai pengikut Kristus didalam menghadapi kontroversi masalah adat. Yesus Kristus hadir di tengah-tengah kemerosotan rohani bangsa Israel yang menjalar di seluruh bidang kehidupan. Dia segera mengenali ketidakberesan bangsa tersebut dalam cara pandang dan sikap terhadap Firman- Nya. Lalu, dari mulut-Nya yang kudus keluar penilaian dan koreksi-Nya terhadap agama dan adat istiadat bangsa tersebut.

Demikian juga bagi bangsa Batak, di tengah-tengah kemerosotan rohani yang terjadi masa
kini, sangat diperlukan kembali adanya suatu reinterprestasi dan pembaharuan sikap akan eksistensi upacara adat Batak yang berasal dari masa kegelapan itu. Dengan kata lain, gereja Tuhan di tanah Batak sangat memerlukan “reformasi iman” dalam kehidupan rohaninya. Karena itu, kita ditantang Tuhan untuk mengambil sikap, antara menyuarakan Injil atau mempertahankan berbagai upacara adat tersebut.

Karena itu, penulis akan memaparkan beberapa prinsip utama yang mendasari upacara adat yang sangat bertentangan dengan Injil. Melalui beberapa prinsip itu kita akan melihat strategi iblis untuk mengikat dan mengendalikan hidup masyarakat Batak. Strategi itu juga merupakan benteng rohani yang dibangun oleh iblis agar masyarakat Batak dapat diperhambanya dari generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian umat Tuhan akan kehilangan kekuatan rohaninya dan hidup dalam kekalahan rohani terhadap kuasa iblis dan roh-roh jahat. Selain itu, semangat dan kuasa untuk memberitakan Injil dapat dipadamkan dari tengah-tengah Jemaat Batak, seperti yang terjadi saat ini.

Dalam perbincangan sehari-hari, penulis sering mendengar keluhan dari orang-orang Batak tentang masalah adat. Banyak yang mengungkapkan keinginannya untuk terlepas dari upacara adat karena melihat tidak ada keuntungannya, bahkan menyalahi Firman Tuhan. Sayangnya, sangat sedikit dari mereka yang memiliki keberanian untuk melakukannya. Umumnya, mereka mengambil jalan aman dengan tetap melibatkan diri, daripada terlibat konflik dengan sesama kerabat atau jemaat gerejanya. Orang Batak telah kehilangan “darah” dalam menegakkan dan menyuarakan ajaran Injil.

Pada awal milenium ketiga ini, dimana saat kedatangan Tuhan Yesus semakin dekat, dibutuhkan adanya suatu kebangunan rohani di tengah-tengah bangsa Batak. Kebangunan rohani akan dimulai, jikalau ada orang-orang Batak yang memiliki cara pandang dan sikap yang lebih tajam dan Injili didalam menilai eksistensi upacara adat, serta memiliki keberanian untuk menyuarakannya pada zaman ini. Karena hanya orang-orang yang seperti ini yang akan diperlayakkan TUHAN untuk memasuki arena peperangan rohani melawan kuasa-kuasa kegelapan, yang telah membelenggu, membutakan serta melumpuhkan kehidupan umat Tuhan di tanah Batak. Kemenangan pasti menjadi milik kita.

Kepada orang yang benar-benar mencintai Tuhan Yesus dengan segenap hatinya, perlu dibukakan berbagai bentuk benteng rohani yang telah dibangun oleh iblis dalam upaya menguasai, membelenggu, dan memperbudak bangsa Batak dari satu generasi ke generasi lainnya. Pengertian ini akan menolong mereka untuk dapat terlepas dari segala jerat iblis di dalam adat Batak, dan beribadah kepada Tuhan Yesus dalam kebenaran dan kekudusan seumur hidupnya.

Penghancuran benteng-benteng iblis yang ada dalam diri orang Batak akan menghasilkan saksi-saksi Kristus yang diurapi dengan keberanian dan kuasa Roh Kudus. Sehingga pada awal abad ke-21 ini akan bangkit orang-orang Kristen Batak yang dipakai oleh Tuhan dalam menyelesaikan Amanat Agung-Nya, dengan melepas mereka dari genggaman kuasa iblis. Dengan demikian kita dapat mempersiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya, dalam rangka menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, yang waktunya sudah semakin sangat dekat.

Renungan ini hanya ditujukan kepada orang-orang yang mau mengasihi Tuhan Yesus dengan segenap hatinya, yang mau dipakai-Nya dalam peperangan rohani. Yaitu, kepada mereka yang memiliki keprihatinan rohani (sense of spiritual crisis ) terhadap nasib bangsa Batak; kepada orang-orang yang mau mencari Kerajaan Sorga dan mau mengikut Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh. Karena hanya merekalah yang mau memikul salib Kristus sebagai konsekuensi atau harga dari ketaatan pada Injil untuk meninggalkan upacara adat Batak.

Sumber Internet file

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Ideologi, Pengetahuan. Tandai permalink.

24 Balasan ke PANDANGAN INJIL TERHADAP UPACARA ADAT BATAK

  1. Rivai Sihombing berkata:

    Ketika saya hendak menikahpun, sebagai orang pria Batak – saya langsung dihadapkan dengan segala bentuk adat istiadat Batak. Saya sempat dibuat pusing tujuh keliling. Yang terbayang di hadapan saya adalah biaya pesta yang membengkak, di luar dugaan!. Saya sempat menolak mentah-mentah segala bentuk aturan adat istiadat Batak, yang saya rasa tidak perlu karena saya merasa tidak penting!. Kalau boleh jujur, alasan yang saya buat-buat adalah tidak sesuai dengan keyakinan / prinsip saya. Saya keras sekali menentang semua prosesi adapt Batak. Alasan yang saya buat-buat ketika itu sangat bertentangan dengan ajaran Injil (tidak sesuai dengan ajaran Kristus/Kristen). Padahal, alasan sebenarnya adalah soal biaya dan biaya. Setelah berkunsultasi kesana-kemari dengan orang tua dari kalangan orang Batak atau tidak. Dan saya tidak lupa berdoa untuk diturunkan pencerahan pikiran.

    Entah kenapa waktu itu saya hanya pasrah saja. Saya serahkan pada TUHAN saja mana yang terbaik. Akhirnya saya setuju saja menyerahkan semua prosesi pernikahan saya dilakukan melalui prosesi adat Batat (Mangadati) secara penuh (adat na gok). Yang penting adalah niat saya yang tulus, kalau itu adalah jalan yang terbaik diberikan TUHAN. Dan tampa disangka-sangka, rejeki / order saya ada saja untuk menutupi semua biaya pesta adat itu. Dan saya akhirnya menyadari apa makna adat Batak tersebut bagi pernikahan saya. Itu yang terpenting akan saya bagi bagi banyak orang.

    Persoalannya sekarang, ada banyak pria di luar suku Batak atau pria Batak sekalipun kurang memahami adat Batak tersebut. Atau banyak mereka tidak mau tahu atau peduli. Atau tidak mau direpotkan dengan semua prosesi adat Batak yang dianggap merepotkan/berbeli-belit! Yang terjadi sebenarnya adalah mereka tidak menerima semua prosesi adat Batak dalam pernikahan, bukan karena alasan pertentangan keyakinan!!!! Sekali lagi bukan!!!! Tetapi karena mereka tidak mau repot dan tidak mau banyak keluar biaya dalam pernikahan mereka. Mereka ketakutan keluar biaya banyak!!! Itu adalah alasan sebenarnya!!! Bukan karena keyakinan!!!! Apakah semua adat istiadat Batak sesuai dengan firman TUHAN. Saya katakana ya….ya…dan ya…

    Tuhan akan memberkati pernikahan tersebut selamanya. Jika hubungan komunitas sosial dengan keluarga terdekat juga ikut merestui dan mendoakannya! Banyangkan jika pernikahan seorang wanita atau pria Batak TIDAK dihadiri salah satu orang tuanya atau familinya. Bayangkan betapa sakit hatinya orang tua si mempelai perempuan/laki-laki tersebut! Seperti pernah kasus di keluarga saya.
    “Ito saya (saudara perempuan anak adik ayah saya) akan menikah dengan seorang pria di luar suku Batak, seorang pendeta dari golongan Kristen Kharismatik dari suku Indonesia timur. Kedua orang tuanya, dan famili tidak setuju atau menghadiri pernikahannya karena tidak disetujui orang tuanya karena pernikahan mereka tidak dilakukan secara prosesi adat Batak. Ditambah, pengaturan tanggal pernikahan mereka sendiri yang sudah mereka atur tampa pemberitahuan / persetujuan dari kedua orang tuanya. Saya sedih melihat adik ayah saya. Dia semakin trus stess memikirkan anak perempuannya yang sangat dicintainya. Bahkan nyaris adik ayah sayta terkena stroke. Tetapi pernikahan mereka tetap saja dilakukan tampa dihadiri keluarga adik bapak saya. Sangat tragis dan menyedihkan…!!! Apakah ini pernikahan yang diberkati TUHAN!

    Jelas ini sangat bertentangan TUHAN! Saya tidak mengerti, mereka sangat dekat dengan TUHAN dan mengaku – ngaku sebagai hamba TUHAN yang kudus bertekun dalam doa, berani melakukan seperti ini. Tetapi justru sangat menyakitkan hati kedua hati orang tuanya! Apakah seperti ini pernikahan yang diberkati TUHAN????Mana penghormatan terhadap orang tua!?

    Sebenarnya, setelah saya alami semua prosesi pernikahan adat Batak pada pernikahan saya. Yang saya rasakan sekarang ini dan seterusnya adalah semua prosesi adapt batak tujuannya adalah bentuk dari penghormatan dan cinta kasih dari kedua orang tua, saudara sekandung, dan keluarga dekat, dan masyarakat sekitarnya. Semua prosesi adat istiadat Batak tidaklah bertentangan dengan ajaran Kristen!!! Justru tujuannya adalah dalam rangka rasa bersyukur, mempererat hubungan cinta kasih dan kepedulian kedua orang tua/keluarga, saudara, kerabat dekat dan masyarakats sekitarnya kepada anaknya yang sangat dicintai. Simbol ini diwakli dengan prosesi pemberian ulos. Dan itulah yang saya alami! Apakah hal itu benar-benar bertentangan dengan firman TUHAN seperti yang dikatakan banyak aliran Kristen kharismatik, yang mengatakan semua prosesi adat Batak adalah bentuk “upacara berhala”. Sangat aneh…Bagi saya itu hanya alasan yang dibuat-buat mereka, karena tidak mau peduli atau tidak mau pusing atau direpotkan dengan semua prosesi adat Batak, dan tidak mau bersosialisi dengan kedua kerabat keluarga dan masyarakat sekitarnya. Ya.Mungkin juga karena ketakutan keluar biaya besar! Silahkan anda pikirkan. Terima kasih. (Rivai Sihombing) pembawaide@yahoo.com.

  2. Rynaldo Silalahi berkata:

    saya ingin bertanya dan tolong sebutkan apa saja adat batak yang menurut anda(penulis) bertentangan dengan alkitab, dan tolong beritahu alasannya kenapa adat tersebut dianggap bertentangan dengan alkitab atau adakah kuasa iblis pada adat-adat batak tersebut

  3. ranto hendra manik berkata:

    Saya coba membaca dan menyimak tulisan dengan pandangan yang netral. Dan saya menyimpulkan bahwa semua tujuan prosesi adat masyarakat Batak adalah baik. Seperti kisah pernikahan pada bang rivai sihombing adalah baik, untuk menjalin kekerabatan dan merupakan sikap santun terhadap sanak saudara dan keluarga.

    Tetapi saya setuju dengan penulis bahwa ada bagian dari kebiasaan/adat batak yang memang mengait-aitkan dengan roh-roh nenek moyang, tidak sepenuhnya didasarkan pada Tuhan Yesus Kristus, dan ini dianggap lumrah, tidak heran.
    Pengenalan akan Yesus adalah hanya sekedar percaya, tidak didasari perubahan total rohani.

    Masyarakat Batak percaya bahwa Yesus adalah jalan kebenaran, bahwa ada hari penghakiman setelah kematian, jadi kita harus berbuat baik selama hidup di dunia. Hal ini jadi terlihat sama seperti yang diajarkan norma norma sosial.

    Dalam perjalanan saya mengenal lebih dalam mengenai adat batak, memang terlihat kental ada beberapa yang menurut saya bentrok dengan amanat dari Tuhan Yesus. Adat menjadi sesuatu yang mutlak dalam masyarakat Batak, bahkan kedudukannya menjadi lebih tinggi dari pada Firman. Inilah yang membuat kebingungan pd sebagian orang batak, khususnya saya pribadi.

    Mari kenali lebih dalam, siapakah Yesus yang kita percaya itu?
    Seperti apa yang Dia kehendaki dari kita?
    Ya Tuhan… hadirlah dalam hati nurani kami, hingga kami dapat masing-masing mengerti akan kehendakMu.

    Amin.

  4. Santi Farida berkata:

    uhmm… kayaknya aku setuju sama topik ini.. karena hal ini terjadi sama kakak laki-laki sepupu saya.. Kakak sepupu saya orang Manado yang tentunya punya marga juga.. dan punya kekasih orang Batak. Hubungan mereka terganjal oleh adat. Terus terang saya sebagai keluarga juga tidak menghendaki kakak saya harus beli marga atau ganti marga, BUKAN KARENA MASALAH BIAYA, kakak saya dan orang tua nya kerja di perusahaan asing dan biaya bukan masalah bagi mereka, namun karena kakak saya juga punya marga (manado), jadi buat apa ganti marga segala???? dan lucunya, ketika kakak saya datang ke rumah orang tua gadis Batak ini, sang ayah menjawab : acara adat itu HARGA MATI… dan kau harus pakai marga Batak, itu harga mati!
    Ya ampuuun… terus terang saya langsung menangkap bahwa… APAKAH ACARA ADAT DAN GANTI MARGA ITU DIATAS SEGALA-GALA nya????
    Lalu marga kami selaku org Manado dikemanain??? kok ga masuk akal!!! sedangkan kakak saya yang Laki-laki, jadi ga bisa semudah itu gonta-ganti marga.
    Menurut saya, apa yg disampaikan sebagai “harga mati” itu ga ADIL buat kami yang berbeda suku dan kebudayaan. Kami berkeras pernikahan sewajarnya… pernikahan dihadapan Pendeta dan resepsi… itu pernikahan yang Normal2 saja tamnpa membawa embel2 pake adat ini, acara ini itu.. Tapi di pihak keluarga batak, mereka mematok HARGA MATI… sungguh menyedihkan…. hanya karena keegoisan Harga Mati itu, hubungan mereka sampai saat ini stag.

  5. EL-roy berkata:

    gw juga kurang setuju terhadap istiadat dalam gereja karena Kristus datang kedunia ini sudah mencakup segala adat istiadat.

  6. pernikahan adat berkata:

    Seperti anda, Saya sangat tertarik dengan adat istiadat kita, oleh karena itu saya membahas tentang budaya pernikahan adat yang ada di Indonesia, mohon masukan dan dukungannya ya makasih :)

  7. Charles Sihombing berkata:

    Adat istiadat merupakan identitas suatu bangsa, saya sependapat dengan saudara – saudara yang lain bahwa melaksanakan adat Batak (pernikahan adat)sungguh memerlukan energi dan biaya yang tidak sedikit, apalagi bagi kita yang tumbuh dan berkembang diluar Tapanuli, mengikuti prosesi adat bisa mendatangkan kejenuhan
    Awalnya perasaan yang menganggap adat Batak bertele- tele juga saya rasakan, hal ini disebabkan karena saya kurang punya pengetahuan tentang adat Batak, setelah mengikuti dan ikut terlibat dalam pelaksanaan adat Batak (awalnya memang terpaksa – karena sudah diadati) saya merasakan kebanggaan sebagai orang Batak, karena adat Batak itu membuat suatu identitas bagi saya, yang tidak saya temui di lain suku bangsa, kita diatur bagaimana bersikap terhadap sesama (Dalihan Natolu)dan pengakuan terhadap kekuatan diluar diri manusia ( Banua ginjang ) yang saya aktualisasikan dengan kekristenan yang saya Yakini.
    Saya gak tahu pelaksanaan adat didaerah leluhur kita (Tapanuli) apakah masih terkait dengan mamelebegu, dirantau ini (Palembang) yang saya ikuti adat Batak adalah untuk memuliakan Tuhan pencipta kita.

  8. joseph arnold simanjuntak berkata:

    tolong kasih tau gw mana yang bertentangan dengan alkitab dan mana ayatnya ? mana yang bisa ditoleransi dan ayatnya/ penjelasanya
    gw butuh informasi loh semua terutama yang membangun dan netral ok, sesuai alkitab kirim ke email gw ya
    gw butuh cepat thanks banget ya

  9. sarman rajagukguk berkata:

    adat menciptakan keteraturan dalam bermasyarakat (batak), dan sangat baik. tetapi Adat tidak pernah mengajarkan /tidak pernah membicarakan bagaimana cara masuk sorga dan tidak menuntun orang masuk Surga. Adat batak terbatas hanya bagi orang batak dan berlaku hanya didunia ini saja itu pun hanya dikalangan orang batak saja. Bagi orang Padang adat batak tidak ada artinya padahal masih tetangga provinsi, adat batak toba tidak berlaku di kalangan batak Pakpak, tidak berlaku bagi suku nias, padahal masih satu provinsi. artinya adat batak hanya berlaku dikalangan yang sangat sedikit dan sangat sempit sekali, bahkan tidak semua orang batak taat melakukan adat batak. ajaran adat sebagian sesuai dengan Injil tetapi sebagian bertentangan dengan Injil.

    Injil menciptakan keteraturan dalam bermasyarakat di dunia ini dan juga menuntun orang masuk ke Sorga. Injil berlaku diseluruh dunia dahulu, sekarang dan bahkan sampai selamanya, bukan hanya kalangan orang batak, tapi seluruh dunia bahkan disorga. artinya otoritas Injil jauh lebih tinggi dibanding adat batak.

    Kesimpulan :
    1. Jika kita ingin masuk sorga maka pegang dan taatilah Injil maka kita akan selamat sampai ke sorga, walaupun mungkin beresiko dikuncilkan dibumi.
    2. Orang yang taat adat batak sangat terhormat dikalangan orang batak (dibumi), tetapi belum tentu masuk sorga, karena ajaran adat sebagian bertentangan dengan Injil yang merupakan buku panduan untuk ke sorga.

    Pertanyaan bagi kita???

    Mau terhormat di Bumi tapi tidak masuk sorga, atau dikucilkan di bumi tapi masuk sorga. Pilihan ada pada diri kita masing-masing. Tuhan Yesus Memberkati.

  10. Bonar Situmeang berkata:

    Sungguh memilukan kalau orang batak dihilangkan adatnya. Ini jelas gerakan pembunuhan karakter. Semua umat Kristen didunia ini memiliki adat- istiadat mereka sendiri. Dan sampai sekarang pun mereka masih melaksanakannya walau sudah menganut kristen. Bahkan Yesus sebagai orang Yahudi. Kalau mengenai alat (goundang) atau tortor yang disebut sebagai sumber sipelebegu itu tidak benar. Barangkali lebih berbahaya pisau atau belati atau bahkan “uang” yang sering kita gunakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Orang Batak tidak akan menjadi batak kalau dicabut dari akarnya yaitu adat. Marga-marga akan dihilangkan, karena itu juga produk dari adat\ sama dengan tortor dan gondang. Tetapi banyak penganut karismatik dan bahkan pendeta nya yang mati-matian menentang adat batak masih juga memakai “MARGANYA”. Waahhhh… luar biasa,… buang marganya dong.. jangan ngaku batak dong… Suku Batak (Batak Toba terutama) berkembang beriringan dengan adatnya dengan jumlah yang besar. Tentu ini atas izin dari Tuhan. Daud memuji Tuhan dengan kecapi, gondang juga memakai hasapi. Apa salahnyanya memuji Tuhan dengan hasapi dan gondang??. Apakah uang yang anda pegang sekarang anda yakini asalnya dari yg baik?? Dari copetkah yang belanja beli rokok di kedai lantas orang kedai membuatnya jadi persembahan di gereja. Apakah orang kedai itu akan masuk neraka. Apakah anda juga akan menutup gereja-gereja yang dibangun sesuai dengan rumah adat penduduk setempat, seperti gereja di pulau jawa, dan gereja-gereja Batak lainnya. Mereka hanya menyoroti suku BATAK, ada keinginan merusak dan menghilangkan adat batak secara sistematik di bumi Indonesia dengan pendapat pribadi dan membungkusnya dengan hukum agama. Yang terpenting saya kira adalah “ORIENTASI”, semua benda mati yang ada dibumi bisa menjadi alat untuk berbuat dosa, tergantung kita. Jangankan ulos handuk aja bisa jadi alat berbuat dosa/!! Coba deh pake mukul istri,.. kan dosaa. Seperti yg kita ketahui memang banyak orang batak menjalankan adat yang salah sama seperti pejabat yang menyalah gunakan jabatan. Ini adalah kesalahan personal dan jangan dijadikan patokan. Tolong dilihat yang benarnya, seperti surat diatas mengenai pengantin yang menado, kami tidak melaksanakan hal yang demikian pemargaan itu hanya pada saat serimoni adat saja (agar adat wakilnya didalam acara tersebut), selanjutnya dia tetap memakai marganya. Ipar saya Ambon (Tomasoa), sampai sekarang ya Tomasoa, anak-anaknya juga bermarga Tomasoa. Masak seh sampai pake acara ganti KTP sama Ijajah. He…he….. Kalaupun ada yang memeilintir Batak itu, itu hanya kelakuan oknumnya. Adat Batak itu indah, unik dan antik. Mari kita memelihara dan menjaganya, dan mengggunakan segenap potensi adat isitiadat untuk memuji dan memuliakan namaNya. Tuhan Memberkati Segenap Orang Batak Yang Memuliakan NamaNya.

  11. horas napitupulu berkata:

    shallom saudara,

    baru 3 hari lalu saya berkunjung ke tempat salah satu bapak tua saya di bandung.
    dari beliau saya mendapat fotokopian buku (kalau tidak salah) berbeda judul dengan posting penulis pada wordpress ini. Buku yang saya baca (masih 1/2 bagian) tersebut, dalam bab pendahuluannya berisi persis seperti posting “PANDANGAN INJILTERHADAP UPACARA ADAT BATAK” ini.

    Dari buku tersebut, “menjelaskan” apa yang menjadi dasar begitu kentalnya pelaksanaan adat batak hingga saat ini, yaitu tentang bentuk penyembahan terhadap si Iblis melalui rupa-rupa pelaksanaan adat batak. Termasuk Dalihan Natolu yang “merepresentasikan” illah yang menurut penulis buku tersebut (marga silalahi) merupakan hal yang sangat bertentangan dengan prinsip iman Kristen kita.

    Setelah membaca (1/2 bagian) buku ini, saya bukannya mendapat “penjelasan” tapi malah seperti berada pada 2 simpangan jalan, yang pertama: sebagai orang batak yang perlu menjunjung tinggi adat istiadat yang telah dijaga lebih dari 14 level generasi, di sisi lain sebagai seorang kristen, kita harus mengasihi Tuhan Allah (Yesus Kristus) dengan segenap hati , pikiran,jiwa dan akal budi kita, sehingga dituntut untuk hanya menyembah Dia (Yesus Kristus) yaitu jalan keselamatan kita.

    1 hal, buku yang saya baca hanya fotokopian, sehingga saya sedikit meragukan ke-valid’an buku tsb.

    Untuk itu, saya mohon bantuan dari saudara-saudara sekalian atas perkenaannya, jika memiliki data buku referensi yang menjelaskan asal muasal adat batak toba(khususnya), dan buku lain mengenai “adat batak vs iman Kristen”.

    Saudara sekalian dapat mengirim email ke horasfadlina70@yahoo.co.id mengenai buku-buku tersebut dan bagaimana cara mendapatkannya.

    semoga Tuhan kita Yesus Kristus memberkati setiap orang batak yang dengan sungguh memuliakan NamaNya.

  12. aesihombing berkata:

    saya sangat senang membacanya, kita bersyukur kepada Allah Bapa di Sorga yang sudah memberi kuasa kepada kita orang percaya sesuai dengan kuasa yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati(Efesus 1:19-21). Dengan kuasa yang kita miliki, roh yang menipu orang Batak melalui upacara adat Batak akan tersingkir dari bangsa Batak. Haleluaya !

  13. Engsond RicOe berkata:

    benar adanya..

  14. Andre Purba berkata:

    Bangsa ini memuliakan aku dgn bibirnya, padahal hatinya jauh dr pd Ku. Percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yg mereka ajarkan adalah perintah manusia.
    Perintah Allah kamu abaikan utk berpegang pada adat istiadat manusia. ( Markus 7;6-8

  15. ranto lumban gaol berkata:

    saya sebagai orang batak merasa sedih membaca artikel diatas.Saya sangat yakin hanya Yesus lah Juruselamat saya secara pribadi,dan saya pasti akan ke sorga kelak.Tapi itu bukan karena saya telah sempurna,dan telah melakukan firman Allah dgn baik.tapi saya hanya percaya dengan Anugerah,Karunia Allah semata.Yesus telah membayar lunas dosa2 saya di kayu salib dengan harga yg mahal dengan darahyg suci.Saya tak minta saya dilahirkan sebagai orang batak yg beradat istiadat.Tapi saya bangga jadi orang Batak,dan saya yakin Tuhan punya rencana yg indahdi balik semua perbedaan pemahaman kita tentang hal2 kerohanian ini,terlalu jauh kita untuk menghakimi satu dgn yg lain yg beradat dgn yg tidak beradat..Yang menjadi pertanyaan saya kepada penulis adalah :Jika anda merasa paling benar dan suci dan layak masuk ke sorga tanpa adat,lalu bagaimana dgn semua penduduk dunia ini yg punya adat istiadat,tetapi punya pengharapan akan kasih dan anugerah Yesus semata untuk memperoleh keselamatan????apakah kami tak layak atau anda pastikan tidak akan beroleh tempat di surga kelak???

  16. NATURE DO berkata:

    Yang pertama dan terutama Hukum Tuhan adalah.
    NDANG JADI MARANGKUP AHU BEHENONMU DEBATAM.

    Kita Orang Batak, khususnya yang beragama kristen lebih khusus lagi Jemaat ni HKBP na bolon i. Dalam segala acara adat batak SELALU, membuat BAPA mempunyai saingan dalam memberkati,(hula2) .dan yang diberkati (*BORU) selalu memberikan SOMBA kepada yang memberkati.

    Ingat :
    Mat 7: 21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
    22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
    23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

    Wahyu 3:11 Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.

    Horas.

  17. NATURE DO berkata:

    Dalam semua acara adat Batak. selalu dan Harus ada Posisi :
    1. Hula-hula. 2. Boru. 3. Dongan sabutuha. dan semua orang Batak PASTi pernah menduduki posisi itu dalam acara Adat Batak.

    Dan Posisi hula2 lah yang paling utama saingan BAPA dalam hal memberikan pasu2 dan menerima somba dari boro.

    Jadi dalam acara itu (adat batak) BAPA mempunyai saingan, padahal BAPA tidak menginginkan ada saingannya untuk memberi berkat dan menerima somba didunia ini.

    Mari kita pahusor-husor di rohantabe penjelasan diatas.

    Horas.

  18. NATURE DO berkata:

    Selama Pejabat Dalihan Natolu Menjadi Peserta Utama dalam Pelaksanaan adat Batak. Selama itu pula Adat Batak dijadikan Saingan Utama Tuhan Yesus dalam memberi berkat dan menerima Sembah.

    Pasti DIA tidak rela kuasa dan hakNya di curi oleh manusia ciptaanNYA , apalagi Dia adalah Tuhan Pencemburu.

    Jadi Jabatan Dalihan na tolu HARUS segera di Pecat dari adat Batak, diganti dengan Pejabat “TRINITAS” Adat Batak Jalan Terussss dibawah Pimpinan Pejabat yang Penuh ” Kasih” dimana Perintahnya TIDAK semahal dan seberat Pejabat dalihan na tolu.

    1 Yohanes 5:3 Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,

    Horas.

  19. Andy Gando berkata:

    Horas,
    yang pertama saya sampaikan adalah bahwa tidak semua ahli theologia adalah orang beriman.
    DR. Richard Niehbur berpendapat bahwa orang-orang Yahudi membunuh Tuhan Yesus karena segala pengajaran dan tindakan Tuhan Yesus merusak adat istiadat dan agama Yahudi, yang sangat mereka banggakan.
    Perlu kita ingat bahwa Tuhan Yesus telah dinubuatkan sebelum dilahirkan sebagai manusia sampai kedatangannya kelak dan sebahagian besar ini sudah digenapi dan tinggal maranatha.
    Beberapa orang yang bergelar Sth pernah saya tanyakan, apah Yudas Iskaryot yang telah menyerahkan Tuhan Yesus seta membunuh dirinyna sendiri akan masuk sorga ? jawab mereka : Judas Iskaryot tidak akan masuk sorga. Tetapi ingatlah kata yesus TAK SEORANG PUN SAMPAI KEPADA BAPA TANPA MELALUI AKU (hak prerogatif hakim agung) yang saya maksud disini adalah sesama terdakwa dilarang saling menghakimi (kita semua akan dihakimi nantinya)
    Mengenai adat batak yang diterapkan saat ini mungkin sudah sangat perlu disederhanakan tanpa mengurangi hakikat atau maknanya.
    Sering sekali hasil tonggoraja diingkari atau bahkan dilupakan (Tonngoraja setara dengan sidang paripurna) sehingga sering terjadi konflik dalam suatu upacara adat batak karena adanya intervensi dari orang yang menganggap dirinya terhormat ataupun kaya.
    Jadi kesimpulan saya adalah :
    1. Adat batak harus terus dijalankan bagi orang yang mengakui dirinya sebagai orang batak( batak itu sendiri adalah merupakan suatu identitas yang dilekati oleh adat istiadat, bahasa,sejarah dll)
    2. Perlu diadakan gerakan penyederhanaan acara adat batak secara massive dan membuat patron atau pola tanpa mengurangi essensi dari adat itu sendiri (beberapa marga dalam scope kecil telah melakukannya)
    3. Era sekarang adalah era demokrasi dimana setiap orang berhak untuk memilih bahkan berhak untuk mengingkari dirinya sendiri.
    Damai sejahtera kiranya menyelimuti hati kita semua.
    Horas
    JS.Hutagaol
    Pematangsiantar

  20. christian adiguna purba berkata:

    saya senang membaca artikel di atas, dan saya sangat setuju tentang kebenaran injil itu tidak bisa disama ratakan dgn adat istiadat apapun yang dilakukan manusia, masa kita mau hidup terus dengan cara hidup adat istiadat yg kita wairIsi yg dimana Tuhan nya orang batak adalah “OMPU MULA JADI NA BOLON”,,,,
    KITA adalah orang percaya Roma 10: 9 (Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.)
    kalau kita sebagai orang percaya, maka kita tidak bisa menggandeng DUA Tuan untuk kita sembah,
    tuhan orang batak=OMPU MULA JADI NA BOLON
    Tuhan nya orang kristen atau orang percaya adalah YESUS KRISTUS

    Nah,,,jika kita sebagai orang percaya maka cara hidup kitapun harus seperti cara hidup orang percaya yaitu sesuai Firman Tuhan
    (“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” ( 1 Petrus 1 : 18 – 19 )

    tuhannya orang batak “OMPU MULA JADI NA BOLON” yang nota bene adalah si iblis yang menyamar sebagai “Tuhan” memberikan cara-cara yg harus dilakukan manusia untuk menyembah dia, memuji dia, itulah yang disebut ADAT ISTIADAT BATAK.

    praktek-praktek adat batak:
    1. ULOS
    dulu nya dibuat dari darah manusia dalam upacara adat, pemahaman orang batak, bahwa ulos yang akan diberikan tulang (hula2) pasti akan mendatangkan berkat.
    padahal sumber berkat ialah dari Tuhan sajalah
    2. gondang dan tortor
    pada dasarnya segala alat musik yang sudah tercipta di dunia ini adalah untuk memuji Tuhan Mazmur 150 : 1-6, namun pada adat batak gondang n tortor pada dasarnya di gunakan untuk menyembah dan memuji sesembahan mereka,,,SIAPA???,,,” OMPU MULA JADI NA BOLON”
    3, Gerakan tangan
    perhatikan gerakan tangan:
    par boru= seperti melipat tangan dan menyembah hula2 mereka
    hula2= seperti menerima sesembahan dari pihak parboru
    terlihat disini bahwa pemahaman di adat batak bahwa pihak parboru atau dalam hal perkawinan laki2 yg mengambil adik atau perempuan dari sebuah keluarga sangat menghormati dan menganggap tulang itu sangat dapat mendatangkan berkat.

    kemudian apakah kita kita tidak menghargai orang tua atau kerabat jika kita tidak melakukan adat???
    Firman Tuhan menjawab Matius 10:37 (Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku)
    wah ekstrem sekali ini….bagaimana caranya saya bisa melakukannya??
    1. jangan tolak firman Tuhan ini.
    2. berdoa minta pemahaman yg dari Tuhan
    3. kasih pemahaman firman ini juga kepada seluruh keluarga kita.
    ini adalah sebagian pandangan injil terhadap adat batak…Haleluya

  21. SimamoraJMP berkata:

    Saudara-saudara yang belum mengerti adat namun mengaku mengerti Injil, saya sarankan anda belajar mengenai hal tersebut dengn lebih baik. Bukankah tidak mungkin anda mengetahui Injil tanpa belajar dan melaksanakannya serta hidup didalamnya?, demikian juga mengenai adat istiadat Batak, anda harus belajar, melaksanakan dan hidup didalamnya.
    Seekor singa akan mencoba hidup dan mengamati dalam sebuah kumpulan kerbau sebelum singa tersebut memangsa kerbau.
    Saya melakukan sedikit pengamatan dan menyimpulkan bahwa : ORANG YANG MENENTANG ADAT ISTIADAT BATAK DENGAN DALIH APAPUN (APALAGI BERDALIH AGAMA) ADALAH ORANG YANG MEMILIKI SEJARAH KELAM DENGAN ADAT TERSEBUT. Artinya ia atau keluarga mereka pernah dikucilkan dalam adat istiadat Batak.
    Dalih yang mereka buat adalah untuk mencari dukungan dari orang lain agar dianggap benar.
    Banyak pertanyaan mengenai bagian adat mana yang bertentangan dengan Injil, tetapi tak satupun dari kalian dapat menjawab. Mengapa? karena kalian tidak memegerti dan memahami adat istiadat Batak. Arti “Dalihan Na Tolu” saja kalian tidak mengerti, tapi sudah sesumbar.
    Saudaraku, ingin mengerti sesuatu bukan hanya dari membaca dan mendengar, tetapi harus coba hidup didalamnya.

  22. muslita berkata:

    kalau adat bisa membawa kita kesorga,kita harus melakukannya,kalau tidak,,,capek dech,,,,,

  23. deny berkata:

    Menurut sy pribadi mengenai adat istidat dlm hal ini yaitu adat batak, jadi menurut hemat sy adalah “Bagaimana cara pandang kita sendiri terhadap Adat tsb” jadi berpikiran yg positif & melakukan yg sesuai dgn Ajaran Alkitab. Maka kalau kita dari awal hanya memandang & berfikir sebuah Adat adalah sesuatu yg Negatif & bertentangan dgn ajaran Alkitab maka seterus nya kita akan selalu berNegatif tentang adat itu tanpa melihat terlebih dahulu dgn seksama & mengerti serta memahaminya. Jadi yg perlu kita ingat adalah bahwa kita hrs menghargai adat kita sendiri yaitu adat batak dgn tdk salah menjalaninya dan jg tdk bertentangan dgn ajaran Alkitab. Amin.. Gbu..

  24. m m berkata:

    Sai marbadai do hamu sude sai hira naung tingkos angka ngolu mu na be ,gabe hancit ni roha do na tubu,hape so tingkos diulahon hamu do pe hata ni Tuhan i, Hata ni Tuhan i do natoho,nalaho manogu hita umboto hasintongan ni adat istiadat ! ,molo pandapot hu jolo takoreksima jolo dirinta be nungga tutu taulahon holong na tu Tuhan i dohot holong tu dongan jolma ? ,molo nungga barupe barani hita mangkatahonsa ,mauliate di hamu . Tuhan Yesus memberkati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s